Basa-basi yang Nggak Penting
Aku pernah sering kali merasakan kegundahan saat awal masuk kuliah. Saat itulah orang-orang terdekatku, saudara, orang tua temen dan bahkan penjual warung depan rumah nanya, "Mba sekarang kuliahnya keterima dimana?". Ya, aku adalah seorang mahasiswa kedokteran gigi di universitas swasta. Lalu mereka melanjutkan bertanya, "Oh, kedokteran. Dulu masuknya berapa?". Mereka nggak peduli mau kedokteran apa, tapi sepertinya mereka beranggapan bahwa semua kedokteran itu jurusan mewah. Apalagi di universitas swasta. Hanya saja, aku sangat menyayangkan orang yang menanyakan seperti itu. Menurutku itu nggak sopan.
Aku masih nggak ngerti apa motivasi mereka nanya kayak gitu. Sebagai bahan basa-basi lagi. Seolah-olah ya nggak apa-apa toh ini candaan. Oke aja kalau orang tersebut nanya biaya masuk buat persiapan anaknya yang pengen masuk jurusan itu juga. Tapi kalau cuma sekadar basa-basi, sungguh nggak sopan. Jawaban apa yang sebenarnya mereka harapkan?
Sejujurnya biaya kuliah di kedokteran gigi relatif mahal, sih. Masuknya juga agak sulit karena banyak saingan. Tapi itu relatif. Sepertinya semua orang juga tau.
But why people keep asking the same question?
Mereka menanyakan sebuah nominal, tetapi mereka sebenarnya nggak butuh jawaban itu. Kenapa nggak nanya "Wah, kalau kamu besok udah lulus bisa periksa gratis, ya?" sebagai bahan basa-basi. Walaupun agak nyebelin juga sih haha tapi seenggaknya lebih baik lah.
Hal ini mungkin juga terjadi karena stereotipe orang-orang ke jurusan kedokteran gigi yang pasti isinya mahasiswa berada karena biaya kuliahnya saja mahal. Apalagi di universitas swasta. People, if you don't want to know what's inside the book, just simply don't judge a book by its cover. Mereka nggak tau kalau di dalamnya juga ada mahasiswa yang perekonomian orang tuanya biasa-biasa saja. Mahasiswa yang rela menyisihkan uang jajannya untuk beli alat-alat, buku, dan kuota. Mahasiswa yang lebih suka naik motor karena bensinnya lebih irit dibandingkan mobil--yang belum tentu juga punya. Mereka nggak tau gimana orang tuanya mati-matian bekerja dengan penghasilan pas-pasan, yang sebagian besarnya untuk biaya kuliah anaknya.
Ibuku selalu berkata "Nggak apa-apa ngeluarin biaya banyak asalkan itu untuk pendidikan".
Terus kenapa aku milih masuk di kedokteran gigi di univ swasta lagi? Nah, awalnya aku hanya milih di kedokteran gigi, nggak untuk di univ swastanya. Aku sempat berjuang untuk masuk di univ negeri. Tapi kehendak Allah lebih baik. Pada akhirnya aku memilih di sini, menjadi mahasiswa kedokteran gigi di univ swasta dan itu bukanlah suatu kesalahan. Pun kalau aku masuk di univ negeri, hampir sama kok biaya kuliahnya karena negeri pakai UKT, kan?
Untuk orang-orang di luar sana, yang selalu kepo dengan biaya kuliah, tolonglah berhenti menanyakan hal yang sebenernya nggak bermanfaat juga buat kalian. Bolehlah kalian berbasa-basi nanya harga tas mahal atau mobil yang dipakai untuk mengkonfirmasi status sosial mereka. Karena jurusan kuliah tidak selalu merepresentasi perekonomian mereka yang sebenarnya.
0 komentar