Kali ini aku mau melanjutkan cerita perjalananku di Korea. Bagi kalian yang ingin tau cerita sebelumnya, bisa baca di sini.
Jadi setelah sampai di sekolah dan dijemput oleh eomma, aku menuju apartemen tempat mereka tinggal. Seneng banget akhirnya bisa punya keluarga lokal selama disana! Seriusan deh, nggak ada yang bisa ngalahin sensasi pengalaman tinggal bersama orang lokal. Keluarga yang aku "nimbrung-in" yaitu keluarga Yun (marga). Mereka terdiri dari bapak, ibu, satu anak perempuan sepantaran denganku (Hyoju), dan satu anak perempuan kelas 5 SD. Syukur nggak ada additional member peliharaan, karena biasanya keluarga di Korea memelihara anjing. Aku sendiri takut soalnya.
Bagaimana caraku berkomunikasi dengan mereka selama disana? Ya pakai bahasa inggris. Secara aku nggak mungkin pakai bahasa korea. Jujur, kemampuan bahasa inggris keluarga angkatku lumayan baik seukuran orang yang non-english-speaker. Nggak heran juga sih karena mereka lumayan sering traveling, pernah ke USA dan bahkan Batam!
Fyi, kota yang aku singgahi, yaitu Gwangju, adalah kota metropolitan. Walaupun begitu, Gwangju tidak seramai Seoul. Apartemen disanapun berdiri di kawasan sendiri. Kerennya, jarak antara apartemen ke sekolah, mall, tempat les, dan tempat publik lainnya tidak terlalu jauh sehingga kebanyakan dapat dijangkau dengan hanya berjalan kaki.
Kenapa sih orang-orang di Korea tinggalnya di apartemen? Apa enggak ada yang tinggal di rumah?
Nah, menurut hasil ngobrol-ngobrol nih ya, memang pemerintah sana sedang menggalakkan program pemerataan dan penekanan jumlah penduduk. Dengan wilayah negara yang tidak terlalu luas, maka diharapkan ada pemerataan untuk industri, pertanian, dan tempat tinggal. Rumahpun jarang sekali terlihat. Kalaupun ada pasti letaknya di pinggir kota atau rumah tradisional jaman dulu di desa, karena memang menyewa atau punya rumah disana lebih mahal daripada sewa apartemen. Di sana ada beberapa tipe apartemen dari yang kelasnya elite sampai yang sederhana.
Aku tinggal di apartemen yang lebih sederhana dengan furnitur dominan kayu. Pertama kali masuk udah kerasa banget suasana hangatnya walaupun cuaca di luar masih dingin selepas hujan. Sesampainya di apartemen, aku dikenalkan dengan anggota keluarga ini. Kemudian tur ruangan dipandu oleh appa yang entah kenapa udah pulang duluan (padahal katanya masih kerja). Ditunjukin kamar tidurku, cara pakai shower, meja makan, tempat ambil air minum, snack. Feels like home~



