a Wundertalk

BUNCH OF STORIES

  • Home
  • About
  • Contact
Teruntuk manusia-manusia di waktu terakhir,



Hai, kamu yang terlihat dingin. Maaf atas kesalahpahamanku. Ternyata kamu lebih hangat dari sinar matahari saat terbit di balik gedung itu, yang menjadi favoritku untuk menjadi objek kameraku. Sayangnya aku suka berbicaramu yang apa adanya, perlahan dengan perhatian kecil yang berarti, ketenangan yang menular. Gesturmu menipu, sungguh. Kamu di luar perkiraan. 



Hai, kamu yang terlihat perfeksionis. Memang iya. Tetapi kamu bisa juga ya bergelut dengan kepanikan dan lupa. Susun semua langkahmu. Jadikan fokus sebagai penyelamatmu. Jangan terdistraksi. Percaya semua akan baik-baik saja.



Hai, kamu yang terlihat konyol. Cukup sudahi kepura-puraan ini. Biarkan semua tahu aslimu. Tahan benci dan gengsimu pada yang di bawah, pada yang tak tahu apa-apa. Posisikan diri terhadap orang lain. Jangan mengadu. Aku harap kamu dapat menahan egomu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Beberapa orang mungkin sepakat bahwa menjadi sendirian adalah suatu hal yang buruk. Kesannya seperti kamu tidak diharapkan dan kamu tidak pantas berada di posisi manapun.

Temanku pernah bertanya kepadaku, "Kok kamu bisa sih nonton film ke bioskop sendirian? Kalau aku mungkin bakal udah kayak anak ilang." atau bilang "Aku nggak jadi nonton film X, nggak ada teman". Bahkan ibuku pun sering protes kalau aku makan di luar sendirian. Bukan karena aku nggak punya teman yang bisa diandalkan, tapi ada kalanya aku nyaman dengan diri sendiri.


Being alone doesn't mean being lonely.


Sendiri lekat dengan kesepian, kesepian lekat dengan kesedihan. Namun, semua itu tidaklah mutlak. Kita tidak tahu apa yang orang lain rasakan ketika mereka memilih untuk sendiri. Mereka bisa saja sedang berdamai dengan diri mereka sendiri. Sebagai proses mengenal diri yang lebih baik tanpa adanya pengaruh dari sekitar.

Tidak semua tentang kesendirian itu kelam. Misalkan kalian lapar, tapi nggak ada yang bisa diajakin makan, lantas apakah kalian jadi nggak makan? You live your own life. Kalian butuh makan untuk hidup, kenapa harus selalu ditemani? Hidup tergantung seperti itu lama kelamaan akan merugikan diri sendiri.

Manusia memang pada dasarnya makhluk sosial, tapi selama kalian butuh dan nyaman, it's fine to sometimes be alone. 

why don't we share our solitude?
- lokasi foto: jembatan stasiun Palmerah
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku pernah sering kali merasakan kegundahan saat awal masuk kuliah. Saat itulah orang-orang terdekatku, saudara, orang tua temen dan bahkan penjual warung depan rumah nanya, "Mba sekarang kuliahnya keterima dimana?". Ya, aku adalah seorang mahasiswa kedokteran gigi di universitas swasta. Lalu mereka melanjutkan bertanya, "Oh, kedokteran. Dulu masuknya berapa?". Mereka nggak peduli mau kedokteran apa, tapi sepertinya mereka beranggapan bahwa semua kedokteran itu jurusan mewah. Apalagi di universitas swasta. Hanya saja, aku sangat menyayangkan orang yang menanyakan seperti itu. Menurutku itu nggak sopan.

Aku masih nggak ngerti apa motivasi mereka nanya kayak gitu. Sebagai bahan basa-basi lagi. Seolah-olah ya nggak apa-apa toh ini candaan. Oke aja kalau orang tersebut nanya biaya masuk buat persiapan anaknya yang pengen masuk jurusan itu juga. Tapi kalau cuma sekadar basa-basi, sungguh nggak sopan. Jawaban apa yang sebenarnya mereka harapkan?

Sejujurnya biaya kuliah di kedokteran gigi relatif mahal, sih. Masuknya juga agak sulit karena banyak saingan. Tapi itu relatif. Sepertinya semua orang juga tau.

But why people keep asking the same question? 

Mereka menanyakan sebuah nominal, tetapi mereka sebenarnya nggak butuh jawaban itu. Kenapa nggak nanya "Wah, kalau kamu besok udah lulus bisa periksa gratis, ya?" sebagai bahan basa-basi. Walaupun agak nyebelin juga sih haha tapi seenggaknya lebih baik lah.

Hal ini mungkin juga terjadi karena stereotipe orang-orang ke jurusan kedokteran gigi yang pasti isinya mahasiswa berada karena biaya kuliahnya saja mahal. Apalagi di universitas swasta. People, if you don't want to know what's inside the book, just simply don't judge a book by its cover. Mereka nggak tau kalau di dalamnya juga ada mahasiswa yang perekonomian orang tuanya biasa-biasa saja. Mahasiswa yang rela menyisihkan uang jajannya untuk beli alat-alat, buku, dan kuota. Mahasiswa yang lebih suka naik motor karena bensinnya lebih irit dibandingkan mobil--yang belum tentu juga punya. Mereka nggak tau gimana orang tuanya mati-matian bekerja dengan penghasilan pas-pasan, yang sebagian besarnya untuk biaya kuliah anaknya.

Ibuku selalu berkata "Nggak apa-apa ngeluarin biaya banyak asalkan itu untuk pendidikan". 

Terus kenapa aku milih masuk di kedokteran gigi di univ swasta lagi? Nah, awalnya aku hanya milih di kedokteran gigi, nggak untuk di univ swastanya. Aku sempat berjuang untuk masuk di univ negeri. Tapi kehendak Allah lebih baik. Pada akhirnya aku memilih di sini, menjadi mahasiswa kedokteran gigi di univ swasta dan itu bukanlah suatu kesalahan. Pun kalau aku masuk di univ negeri, hampir sama kok biaya kuliahnya karena negeri pakai UKT, kan?

Untuk orang-orang di luar sana, yang selalu kepo dengan biaya kuliah, tolonglah berhenti menanyakan hal yang sebenernya nggak bermanfaat juga buat kalian. Bolehlah kalian berbasa-basi nanya harga tas mahal atau mobil yang dipakai untuk mengkonfirmasi status sosial mereka. Karena jurusan kuliah tidak selalu merepresentasi perekonomian mereka yang sebenarnya. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Beberapa waktu lalu, aku mengikuti suatu kegiatan sosial yang berbasis volunteering. Aku daftar di sana awalnya memang untuk mencari pengalaman dan teman, karena selama ini cuma sering ikut kegiatan di kampus. Selama kuliah ini aku merasa jadi nggak punya social life, sehingga itu yang paling memotivasiku join kegiatan di luar. 

Kegiatan kali ini sangat edukatif. Ya karena nggak lain yang mengadakann adalah komunitas yang berfokus pada pendidikan anak. Konsepnya fun learning dan tepat sasaran. Kita bisa mengajar pelajaran dasar, pengetahuan umum, dan lain-lain. Yang paling bikin penasaran adalah siapakah tenaga pengajarnya atau relawannya? Kalau dari yang aku ketahui sih dari berbagai kalangan, namun kebanyakan mahasiswa dari berbagai jurusan.

Saat itu aku ikut kegiatan mengajar di SD yang anak-anaknya rame tapi pinter. Seneng banget sih bisa interaksi dengan mereka yang asik dan pede-pede jawab pertanyaan. Para pengajar saat itu banyak ngajarin mereka tentang pengetahuan umum dan dasar, salah satunya adalah cara menyikat gigi dengan benar. Materi tersebut disampaikan oleh senior yang udah lama mengajar disana. 
Kebetulan pas itu aku nggak berpartisipasi langsung dalam penyampaian materinya, karena aku baru join dan belum begitu paham dengan kinerjanya. Sungkan gaes kalo salah kan. Walaupun materinya memang related dengan ilmu yang sedang aku pelajari, tapi orang-orang belum banyak yang tau. Jadinya aku cuma ngeliatin sambil observasi aja.

Awalnya emang lancar-lancar aja. Senpai itu menjelaskan cara menyikat gigi yang benar dengan sangat interaktif. Media yang digunakan juga nggak tanggung-tanggung, video dengan layar LCD.
Pokoknya yang disampaikan sesuai dengan materi dental health education. Namun, saat masuk ke materi proses pembentukan gigi berlubang, aku merasakan sesuatu yang janggal. Penjelasan senpai pakai bahasa awam emang nggak salah, tapi aku agak aneh dengan pernyataan senpai bahwa gigi bolong yang berwarna hitam karena kuman itu adalah karang gigi.

I was like "what??"

Ada yang bisa bedain karies dengan karang gigi?


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Cukuplah aku menyapamu dalam diam, menyebut namamu dalam doa. Dan apabila rindu ini belum tersampaikan, izinkanku tetap menanti dalam keikhlasan.

Cukuplah aku tertegun dalam diam. Diam, sehingga hanya aku dan Allah yang tahu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
What's so great about leaning on someone's shoulder? If only the someone knew there's someone else leaning on the feeds, die laughing, realizing what just happened and her sacrifice ends up like the story of the last recital.


Literally, the hardest part.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
People who don’t want to accept the reality, don’t deserve to be a winner as well. Stay focused and try. Seeing the results will make you forget the process. Sometimes the process will be greater than the results. You will find obstacles in there and when you can fight for it, you will be very satisfied and proud of yourself. Nothing goes unchanged in this beautiful world. Actually you have something belongs only to you that will be the main attraction for others.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Entah kenapa nulis judul begini. Jadi ya cerita ini dimulai sejak keeksisan Foster The People di dunia. Foster The People adalah band pop-indie, dan kalian tau kalo indie identik sama hipster, ye kan? Nah kebetulan aku lagi suka sama mereka entah kenapa gitu awalnya sih pas jaman liburan sering denger single pumped up kicks di khalayak umum dan youtube-ing (emang youtube makanan sehari2 pas liburan) lalu ternyata.... sama sekali ga tertarik! oh iya apalagi dulu pernah ST nya FTP mention ST STC buat follback (fyi, dulu pernah jadi admin ST STC). Sampai akhirnya 2 bulanan yang lalu salah satu teman lagi dengerin lagunya FTP dan akhirnya nanya deh tentang lagu mereka yang bagus apaan. Dia jawab taunya pumped up kicks. Singkat aja, setelah itu aku ngubek-ubek purevolume mereka dan...I-have-fall-en-in-loooooove *singing I would do anything for you* *mulai fangirling*

Lalu hipster sendiri apaan ya? Hmmm kalo denger kata2 hipster jadi inget dulu pertama kali tau pas SMP, ada temen twitter yang menyebut dirinya sebagai hipster. Sumpah ya dia sempet aku anggap anak gaul :)) tapi emang iya, dia berpenampilan beda; vintage gimana gitu, dan pada saat itu gue belum bisa bedain mana vintage mana hipster *dueng *elah.
Ngomong-ngomong soal hubungan hipster dan indie, belum lama ini aku pernah dicap "hipster" sama seseorang. Ditanyain kenapa dibilang hipster, dan jawabannya karena dengerinnya FTP...
Semenjak kejadian itu, jadi mikir....kayaknya iya ya semua lagu yang aku punya genre nya indie .__.
Kemudian flashback, jaman ke-indie-an aku sepertinya mulai sejak SMP (lagi). Jaman kelas 7 dengerannya masih genre orang waras, alternative gitu lah masih mending. Lah kelas 8 mulai berevolusi menjadi 50% indie, kalas 9 nambah parah dengan dengerin TDCC dkk, jadi tingkat ke-indie-an menjadi 80% dan puncaknya adalah ketika SMA yaitu 100% ! Man..
Secara gak sengaja (apa sengaja?) kan @terselubung muncul di TL twitter dengan tweet "4 Tipe Anak Gaul", dan sebagai abege yang penuh dengan curiosity, buka deh link nya dan liat salah satu tipe-nya begini.....



Nyadar juga sih, lebih suka jadi yang "beda sendiri", tapi juga gak meninggalkan yang mainstream. Jadi misalnya nih lebih suka pake sendal jepit ke mall daripada sepatu sendal yang orang-orang pake. Itu juga dilakuin pake alasan soalnya lebih nyaman, bukannya cuma buat jadi hipster. Lebih suka FTP, TDCC, bukan karena mereka band "indie", tapi ya karena suka aja sama musik mereka. Di gambar diatas disebutin kalo anak hipster itu "kalo kamu sampe suka hal itu, mereka udah gak suka lagi". Lagian juga "indie" itu bermakna gak tergantung, dimana dia biasanya home recording dsb, bukan hipster. Dan akhir-akhir ini udah banyak yang suka dan kelamaan bakal jadi mainstream kan? Disamping itu aku juga dengerin genre yang rada normal, misalnya DC yang sebagian orang bilang kalo mereka mempunyai aliran "emo" dan berakustik. Gak peduli juga sih mau aliran apa dan bagaimana yang penting kalo menurut kita bagus, kenapa nggak?
Hmmm setelah dibaca baca kayaknya aku labil abis ya. But whatever people say I am, that's what I'm not.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
I know it has been cleared.
Why did you do that? I don't know.
What's the matter? I don't know.
Do you still trust people? I don't know.
I don't want to talk about it, love is such a perfect pain to talk about. The only thing I know is I don't know. Why did people care with others, whereas I was alone in the middle of the darkness? That is the most stupid thing I've ever known. Why did people do that in front of me? I think they are just pretending. I don't care at all. My brain isn't for them.
Later. Later. Later.
Yesterday, was the day. The day where I caught that 'one' walking in front of me by wearing the tee I've ever given. Omg, I wrote on that letter "if you don't like it, you can burn it". A little bit affected.
But I know how's now.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

KNOW ME

KNOW ME
Indonesian based in Jogja. Been three years studying Dentistry.

Follow Me

  • Instagram
  • Twitter
  • Facebook

Labels

  • Abroad (1)
  • Art (1)
  • Daily (1)
  • Event (1)
  • Jogja (1)
  • Journey (4)
  • Knowledge (2)
  • Korea (2)
  • Music (2)
  • Thoughts (9)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  August (1)
      • Objek Observasi
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2017 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (3)
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (2)
    • ►  August (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2012 (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2011 (4)
    • ►  December (2)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2009 (2)
    • ►  October (2)

Created With By BeautyTemplates & Published With By Blogger Templates