"Dalam pameran utama Biennale Jogja XIV yang bertajuk STAGE OF HOPELESSNESS, 39 perupa dari Indonesia dan Brasil diundang untuk menggelar karya-karyanya. Sebanyak 27 perupa Indonesia yang diundang adalah perupa-perupa yang aktif berkegiatan dalam enam tahun terakhir dan telah menggelar pameran tunggal dalam dua tahun terakhir."
Awalnya aku diajakin Wina dateng ke acara LOL ini di hari ketiga (hari terakhir) untuk nonton konser Adhitia Sofyan gratisan haha. Langsung cus dah, secara dari kapan kita pengen nonton tapi malah nggak kesampaian mulu. I've been his fan for years, dari jaman kambing jantan tapi sampai sekarang belum pernah nonton live performance doi (karbitan banget ya? ya nggak lah, belum ada waktu aja~). Oh ya, acara LOL tahun ini masih diadakan di Amplas, dengan dibagi menjadi tiga titik acara yaitu di taman untuk food bazaar, atrium untuk pameran dan talkshow, dan rooftop untuk music gig nya. Menurut schedule sih open gate gig nya jam 19.00, jadi daripada aku otw mepet jam segitu pasti macet karena malam minggu, mending berangkat awal. Dan pada akhirnya, aku memutuskan untuk ikut talkshow yang sesi siang aja sekalian.
Aku bener-bener nggak tau tentang jadwal talkshownya hari itu, sampai suatu ketika pada H-1, salah satu following-ku di IG update instastory kalau dia bakal ngisi talkshow yang jam 2! Wah yang bener aja, kok aku baru tau semepet itu?! Aku bertanya dalam diam (halah). Kaget, heboh sendiri. Aku langsung DM Tata yang notabene juga dateng ke talkshownya Wregas dan Gianni hari itu tapi jam 1. Kirim screenshoot instastory tadi, dan bilang "Takk aku pengen ketemu masnya ini :(".
Keesokan harinya aku masih galau jadi nonton talkshow atau nggak, soalnya belum daftar seat dan nggak yakin masih banyak yang available. Tapi sebagai manusia yang berpegang teguh dengan prinsip "sek penting yakin", akhirnya aku mantep. Lepas dhuhur langsung berangkat tanpa mikirin lagi dapet seat atau nggak. Sampai sana jam 13.30, pas banget di detik-detik terakhir talkshownya Wregas selesai. Sambari menunggu jam 2, kita lihat-lihat pameran produk brand lokal yang lucu-lucu banget!
in frame: Anggey, Febrian, Kadek
Yeay, akhirnya ikut talkshow para suhu traveling ini walaupun nggak dapet seat, rela dah berdiri. Talkshow kali ini super menarik dan rame, lho. Mereka sharing tentang tips traveling khususnya buat budget traveler, pengalaman-pengalaman mereka, dan cara editing foto kece :p
Sayangnya kita cuma ikut 3/4 sesi, karena capek juga berdiri dan butuh asupan minuman, jadilah ke food court di taman pendopo yang ternyata rameee banget. Jauh-jauh ke sini ujung-ujungnya beli cokles juga. Waktu bersantai ria di taman, temenku bilang hal yang sungguh bikin galau, "Chak, talkshow-nya udah selesai, tuh. Lo mau foto sama Febrian nggak?". Dhuar.
Nggak kepikiran lho aku buat sampai foto bareng gitu. Di satu sisi malu karena pasti sesi foto udah selesai, di sisi lain pengen karena kapan lagi ketemu dia? Akhirnya yaudahlah ya kita balik ke atrium, siapa tau masih ada banyak orang yang lagi sesi foto terus bisa nimbrung. Belum sampai sana, ndilalah kita berpapasan sama dia di penyebrangan antara taman pendopo dan atrium. Kita mau ke atrium, dia malah ke taman pendopo. Duh, yakali nyamperin. Kegalauan yang sungguh. Aku tetap ke atrium sambil muter-muter pameran lagi, padahal sih sambil mikir. Temanku mencoba meyakinkanku. Saat itulah aku menyadari bahwa diriku ini sungguh jirih terhadap orang-orang tertentu. Kucoba memantapkan diri sesuai prinsip sik penting yakin menuju kembali ke taman pendopo.
Emang kalo udah jodoh pasti nggak kemana.
muka awkward dan speechless ya gini
Kita berpapasan di pintu masuk taman pendopo, aku kaget dan langsung kisut dong haha. Untungnya temanku langsung nyegat :'D Terima kasih juga buat mba-mba panitia yang udah bantu fotoin.
Awal tau Febrian dari iseng-iseng blogwalking, terus ketemu blognya dan akhirnya ngikutin JIK di youtube Indonesia Kaya, dimana dia sebagai host-nya! Dari situlah aku dapat benyak wawasan tentang budaya-budaya Indonesia. Terima kasih sudah menginspirasi ya! :))
Aku pernah sering kali merasakan kegundahan saat awal masuk kuliah. Saat itulah orang-orang terdekatku, saudara, orang tua temen dan bahkan penjual warung depan rumah nanya, "Mba sekarang kuliahnya keterima dimana?". Ya, aku adalah seorang mahasiswa kedokteran gigi di universitas swasta. Lalu mereka melanjutkan bertanya, "Oh, kedokteran. Dulu masuknya berapa?". Mereka nggak peduli mau kedokteran apa, tapi sepertinya mereka beranggapan bahwa semua kedokteran itu jurusan mewah. Apalagi di universitas swasta. Hanya saja, aku sangat menyayangkan orang yang menanyakan seperti itu. Menurutku itu nggak sopan.
Aku masih nggak ngerti apa motivasi mereka nanya kayak gitu. Sebagai bahan basa-basi lagi. Seolah-olah ya nggak apa-apa toh ini candaan. Oke aja kalau orang tersebut nanya biaya masuk buat persiapan anaknya yang pengen masuk jurusan itu juga. Tapi kalau cuma sekadar basa-basi, sungguh nggak sopan. Jawaban apa yang sebenarnya mereka harapkan?
Sejujurnya biaya kuliah di kedokteran gigi relatif mahal, sih. Masuknya juga agak sulit karena banyak saingan. Tapi itu relatif. Sepertinya semua orang juga tau.
But why people keep asking the same question?
Mereka menanyakan sebuah nominal, tetapi mereka sebenarnya nggak butuh jawaban itu. Kenapa nggak nanya "Wah, kalau kamu besok udah lulus bisa periksa gratis, ya?" sebagai bahan basa-basi. Walaupun agak nyebelin juga sih haha tapi seenggaknya lebih baik lah.
Hal ini mungkin juga terjadi karena stereotipe orang-orang ke jurusan kedokteran gigi yang pasti isinya mahasiswa berada karena biaya kuliahnya saja mahal. Apalagi di universitas swasta. People, if you don't want to know what's inside the book, just simply don't judge a book by its cover. Mereka nggak tau kalau di dalamnya juga ada mahasiswa yang perekonomian orang tuanya biasa-biasa saja. Mahasiswa yang rela menyisihkan uang jajannya untuk beli alat-alat, buku, dan kuota. Mahasiswa yang lebih suka naik motor karena bensinnya lebih irit dibandingkan mobil--yang belum tentu juga punya. Mereka nggak tau gimana orang tuanya mati-matian bekerja dengan penghasilan pas-pasan, yang sebagian besarnya untuk biaya kuliah anaknya.
Ibuku selalu berkata "Nggak apa-apa ngeluarin biaya banyak asalkan itu untuk pendidikan".
Terus kenapa aku milih masuk di kedokteran gigi di univ swasta lagi? Nah, awalnya aku hanya milih di kedokteran gigi, nggak untuk di univ swastanya. Aku sempat berjuang untuk masuk di univ negeri. Tapi kehendak Allah lebih baik. Pada akhirnya aku memilih di sini, menjadi mahasiswa kedokteran gigi di univ swasta dan itu bukanlah suatu kesalahan. Pun kalau aku masuk di univ negeri, hampir sama kok biaya kuliahnya karena negeri pakai UKT, kan?
Untuk orang-orang di luar sana, yang selalu kepo dengan biaya kuliah, tolonglah berhenti menanyakan hal yang sebenernya nggak bermanfaat juga buat kalian. Bolehlah kalian berbasa-basi nanya harga tas mahal atau mobil yang dipakai untuk mengkonfirmasi status sosial mereka. Karena jurusan kuliah tidak selalu merepresentasi perekonomian mereka yang sebenarnya.
Beberapa waktu lalu, aku mengikuti suatu kegiatan sosial yang berbasis volunteering. Aku daftar di sana awalnya memang untuk mencari pengalaman dan teman, karena selama ini cuma sering ikut kegiatan di kampus. Selama kuliah ini aku merasa jadi nggak punya social life, sehingga itu yang paling memotivasiku join kegiatan di luar.
Kegiatan kali ini sangat edukatif. Ya karena nggak lain yang mengadakann adalah komunitas yang berfokus pada pendidikan anak. Konsepnya fun learning dan tepat sasaran. Kita bisa mengajar pelajaran dasar, pengetahuan umum, dan lain-lain. Yang paling bikin penasaran adalah siapakah tenaga pengajarnya atau relawannya? Kalau dari yang aku ketahui sih dari berbagai kalangan, namun kebanyakan mahasiswa dari berbagai jurusan.
Saat itu aku ikut kegiatan mengajar di SD yang anak-anaknya rame tapi pinter. Seneng banget sih bisa interaksi dengan mereka yang asik dan pede-pede jawab pertanyaan. Para pengajar saat itu banyak ngajarin mereka tentang pengetahuan umum dan dasar, salah satunya adalah cara menyikat gigi dengan benar. Materi tersebut disampaikan oleh senior yang udah lama mengajar disana.
Kebetulan pas itu aku nggak berpartisipasi langsung dalam penyampaian materinya, karena aku baru join dan belum begitu paham dengan kinerjanya. Sungkan gaes kalo salah kan. Walaupun materinya memang related dengan ilmu yang sedang aku pelajari, tapi orang-orang belum banyak yang tau. Jadinya aku cuma ngeliatin sambil observasi aja.
Awalnya emang lancar-lancar aja. Senpai itu menjelaskan cara menyikat gigi yang benar dengan sangat interaktif. Media yang digunakan juga nggak tanggung-tanggung, video dengan layar LCD.
Pokoknya yang disampaikan sesuai dengan materi dental health education. Namun, saat masuk ke materi proses pembentukan gigi berlubang, aku merasakan sesuatu yang janggal. Penjelasan senpai pakai bahasa awam emang nggak salah, tapi aku agak aneh dengan pernyataan senpai bahwa gigi bolong yang berwarna hitam karena kuman itu adalah karang gigi.
I was like "what??"
Ada yang bisa bedain karies dengan karang gigi?







