a Wundertalk

BUNCH OF STORIES

  • Home
  • About
  • Contact
Beberapa orang mungkin sepakat bahwa menjadi sendirian adalah suatu hal yang buruk. Kesannya seperti kamu tidak diharapkan dan kamu tidak pantas berada di posisi manapun.

Temanku pernah bertanya kepadaku, "Kok kamu bisa sih nonton film ke bioskop sendirian? Kalau aku mungkin bakal udah kayak anak ilang." atau bilang "Aku nggak jadi nonton film X, nggak ada teman". Bahkan ibuku pun sering protes kalau aku makan di luar sendirian. Bukan karena aku nggak punya teman yang bisa diandalkan, tapi ada kalanya aku nyaman dengan diri sendiri.


Being alone doesn't mean being lonely.


Sendiri lekat dengan kesepian, kesepian lekat dengan kesedihan. Namun, semua itu tidaklah mutlak. Kita tidak tahu apa yang orang lain rasakan ketika mereka memilih untuk sendiri. Mereka bisa saja sedang berdamai dengan diri mereka sendiri. Sebagai proses mengenal diri yang lebih baik tanpa adanya pengaruh dari sekitar.

Tidak semua tentang kesendirian itu kelam. Misalkan kalian lapar, tapi nggak ada yang bisa diajakin makan, lantas apakah kalian jadi nggak makan? You live your own life. Kalian butuh makan untuk hidup, kenapa harus selalu ditemani? Hidup tergantung seperti itu lama kelamaan akan merugikan diri sendiri.

Manusia memang pada dasarnya makhluk sosial, tapi selama kalian butuh dan nyaman, it's fine to sometimes be alone. 

why don't we share our solitude?
- lokasi foto: jembatan stasiun Palmerah
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Suatu waktu aku iseng scrolling timeline Twitter dan mendapati salah satu following ngetweet "Ada yang mau nonton Mew?". Bingung sebingung-bingungnya. Alhasil langsunglah ku menilik instagram @mewofficial, dan benar saja mereka bakal konser di salah satu festival indie clothing-whatsoever di Istora Senayan. How can I not know? Info dari Maret tapi baru tau H-2 minggu sungguhlah cerdas~

Sepertinya memang saat itu semesta sedang berpihak padaku. Walaupun sempat lama berkontemplasi, akhirnya diri ini memantapkan untuk berangkat. Untung besoknya libur. Untungnya lagi HTM-nya cuma 50.000. Kapan lagi nonton band sekelas Mew lebih murah dari Raisa? Udah sekalian bisa liat-liat baju distro lucu dan band-band keren lainnya seperti Sore, Polka Wars, Vira Talisa, Reality Club, Seringai (itu doang yang tau).
Pada akhirnya kuajak juga teman seper-fangirl-an untuk nonton karena juga sesama penikmat Sore dan Polka Wars. Sayangnya dia berangkat duluan ke Jakarta karena ada urusan magang.

Kondisi waktu itu sebenarnya lagi hectic habis ujian dan sangat misqin. Yaa baru tau H-2 minggu kaga ada persiapan apa-apa. Berbekal tabungan seadanya, aku berangkat. Kalau ditanya kenapa segitunya, karena waktu sebulan terakhir itu aku memang sedang butuh "rehat" dari banyaknya problematika hidup (dan hati). Aku ingin memberikan self-rewarding gitu. Kesempatan sedang datang dan aku nggak mau mengecewakan diri sendiri sehingga timbul penyesalan. Secara ini adalah salah satu momen yang aku tunggu sejak bertahun-tahun yang lalu. Nggak percaya? Ini buktinya


Itu tweet waktu Mew konser di Guinness Arthur's Day bareng One Republic dan Club8. Sayangnya nggak boleh karena masih bocah SMA nggak memenuhi syarat 21+ haha padahal pengen banget :(

Usai ujian, aku langsung bergegas ke stasiun naik ojol. Berangkat sore hari, sampai Jakarta dini hari. Aku numpang bermalam di tempat tinggal kakak di daerah Benhil. Pagi harinya bingung mau ngapain. Rasanya mager sekali untuk keluar sekadar cari makan. Padahal hari itu adalah hari H dan belum beli tiket, sungguhlah cerdas #2. Yaudah sembari menunggu temanku datang dari Bintaro, aku naik ojol ke Ratu Plaza buat makan KFC doang haha. 

Ojol: "Mbak, ini mau lewat mana ya?"
Aku: "Ngikutin map aja, pak."
Ojol: "Saya nggak hapal jalan."

Apalagi saya pak.

Akhirnya dengan berbekal memori jangka pendek dan kesotoyanku, aku mengarahkan si bapak ojol dari Benhil-Semanggi-Senayan. Yang penting ketemu Jonas Bjerre.

Selesai makan, sempat mager dulu di KFC agak lama, dan posisi masih belum pegang tiket. Aku menyarankan temanku yang masih di stasiun untuk membeli tiket di Indomaret takut on the spot ngantri atau sold out. Karena terlalu gabut, pas pukul 5 sore aku jalan kaki ke Istora Senayan yang jaraknya 700 meter 😔 ya gimana sih, aku suka jalan-jalan di kota orang. Sepanjang jalan aku minder karena banyak mas-mbak hypebeast sedangkan aku cuma kentang. Sampai venue, ticket box sepi antrian dong. Tanpa konfirmasi ke temanku aku langsung semangat beli 3 tiket, satunya untuk teman kuliahnya temanku yang ikutan juga. Tapi ternyata mereka udah beliin tiket di Indomaret. Sometimes life isn't easy~

Jadi di sana ada dua stage, nah stage yang luar itu punya Mew, Sore, Polka Wars, Vira Talisa. Stage kedua yang ada Reality Club dan Seringai posisi di dalam, dan buat kesana harus lewat tenants baju dan fnb. Sembari menunggu teman, aku sempatkan jalan-jalan liat baju dan nonton Vira Talisa hehe, masih sepi banget yang nonton. Sewaktu aku duduk ndelosor di pinggir ilalang sambil menikmani alunan mbak Vira, tetiba ada mbak-mbak yang menghampiriku. Dia juga sendirian, dan yang paling kukagumi adalah dia pakai kaos ERK. Kami berkenalan dan dia cerita kalau menang meet & greet Mew tapi entah ada miskomunikasi jadi dia ketinggalan. Kalau aku jadi dia, pasti bakal nangis. Selama ngobrol, mbak ini baik banget serius sampai nawarin thai tea. Dia kaget ketika tau aku dari Jogja dan masih kuliah. Sayangnya setelah itu kami berpisah karena aku mau jajan dan waktu balik ke stage, aku nggak menemukan dia lagi. Padahal asik kalo nonton bareng yakan. Dan mulai saat itu, untuk pertama kalinya, aku merasakan esensi sebuah kata "Frengers", not quite a friend, not quite a stranger. Mbak, kalau kamu baca ini please say hi to me ya.

lagi jajan

Setelah kenyang jajan-jajan, majulah kami ke depan stage. Posisi kami di baris pertama, agak ke kiri, dekat sound. Kalau di nalar sih ya, itu posisi rada nggak enak untuk mendapatkan kualitas suara yang oke. Nggak apa-apa, yang penting di depan hehe. Bagian tengah udah penuh guys, padahal aku udah ngode mas-mas sebelah kananku untuk geser biar agak tengahan dikit. Sebenarnya dari awal datang, aku agak kaget sih ya, sorry to say, dari stage, lighting-nya standar pensi dan sound nya pun biasa. Sempat terlintas di pikiranku, kok Mew mau ya konser di sini. Tapi dengan limapuluhribu, what do you expect? Jujur sih awalnya berharap seperti Mew konser di Roskilde hahah. Semoga aja nanti pas giliran Mew sound nya ganti.

Tepat pukul 19.20, Sore masuk stage. Aku heboh karena akhirnya nonton Sore juga. Dulu waktu SMA selalu dengerin Sore full album, jadi bisa banget menikmati lagu-lagunya dan sing along. Mereka ini walaupun sudah bapak-bapak tetap kocak sih. Mereka bilang Mew anak mereka :( Selanjutnya adalah Polka Wars! Mereka masuk stage pukul 20.15. Lagu mereka yang paling favorit dan selalu terngiangku adalah Mokele. Performance mereka paling keren waktu bawain lagu Rangkum. Ada mas-mas nari kayak di music video nya.

Setelah Polka Wars selesai, inilah waktu yang ditunggu-tunggu, yaitu waktu aku harus masuk ke pokok cerita. Mew is going to be on stage! Kru mereka nge-set panggung sedemikian rupa dan ya akhirnya sound depan diturunin. Senang sekali harapanku terwujud. Beberapa menit kemudian, kok kru mereka masih ribet ya. Lama banget cek-ceknya, sampai penonton di belakang pada ribut, managernya juga galak :( kabel udah bener, eh nggak nyambung lagi gitu terus. A few moments later, Mads Wegner, their touring guitarist ke stage berdiri di depan aku! Dilanjutkan dengan Nick Watts pada keyboard, Silas Jorgensen pada drum, dan Johan Wohlert pada bass.

Mana nih Jonas Bjerre?

Silas mulai menggebuk drumnya memainkan intro "In A Better Place". Selang beberapa detik kemudian, Jonas lompat ke stage. Duh. Pertama kali lihat secara langsung, imut banget nggak kuat padahal udah bapak-bapak :(
Jonas ini bagaikan dewa turun dari Asgard.... kira-kira beginilah bentukannya di stage:

bukan foto waktu itu ya, ini ambil dari google cuma buat ilustrasi

Foto yang di ambil dari posisiku berdiri:



Jarak antara stage dan crowd penonton nggak terlalu dekat juga, sekitar 2 meter untuk akses media. Jujur aja agak terganggu sama mereka yang di depan kalau selesai foto banyak yang malah nongkrong sambil ngerokok. Nggak sopan aja sih, nggak enak dilihat. Waktu itu juga aku nggak banyak ambil foto dan video karena nggak enak lah sama Mew-nya haha, aku mencoba menghargai mereka. Fokus nyanyi sajalah aku. Maaf mas yang di samping, jadi keberisikan suaraku. 

Ini song list yang mereka bawakan:

In A Better Place
Special
Zookeeper's Boy
Satellietes
Candy Pieces All Smeared Out
Introducing Palace Player
Snow Brigade
Start
Twist Quest
Water Slides
Apocalypso
Saviours of Jazz Ballet
Carry Me To Safety
Nothingness/Seasons
Am I Wry? No
156
Comforting Sounds

Dengan 17 lagu dalam 1,5 jam, puas banget sih. Kebanyakan lagu yang dibawakan dari album Frengers, And The Glass Handed Kites, dan Visuals. Kalau boleh saran ke mereka, sekali kali bawain lagu dari album A Triumph for A Man atau Half The World Is Watching Me (yakali bakal baca). Sempat ditengah-tengah salah satu lagu, sound gitar Mads Wegner hilang. Padahal saat itu adalah part-nya main. Aku ngeh banget karena dia tepat di depanku, lihat gimana ekspresinya yang agak kecewa juga. Serta terkadang suara vokal tidak terdengar seimbang. Untungnya Mew sudah manggung sejak 20 tahun lebih, jadi kurasa hal seperti itu bisa teratasi dengan baik. Selain itu, lighting yang gelap menurutku bukan semata-mata menjadi kekurangan. Mereka memang sengaja setting gelap agar selain kita khusyuk menikmati musik mereka, kita juga bisa melihat background visual original Mew (yang dibuat oleh sang visual artist, Jonas Bjerre). Hal tersebut membuat penonton agak susah untuk ambil foto atau video yang baik. Jadi yaa memang lebih baik khusyuk menikmati dari pada sibuk foto atau video.

Terlepas dari masalah tersebut, penampilan Mew kali ini sangat memuaskan. Seperti live mereka yang selalu aku lihat di video. Jonas masih dengan kenaifan dan kekakuannya di stage, tapi diimbangi Johan dengan permainan bass yang gila dan alunan gitar Mads yang gahar. 

Gimana rasanya setelah nonton Mew? 

Bagi aku yang telah lama menantikan moment ini dan pertama kali nonton mereka secara live, rasanya campur aduk antara senang, terharu, dan nggak nyangka. Akhirnya salah satu impianku terwujud.

It was the most mewgical night in my life, pokoknya.

Sepertinya inilah keputusan terbaik yang pernah aku buat selama hidup. Keputusan yang diambil secara tepat, cepat, dan efektif tanpa berpikir panjang. I'm kinda proud of me. Nggak ngerti kenapa bisa sayang gini. Pertama kali familiar sama mereka tahun 2000-sekian di MTV, suka bangetnya baru tahun 2009 setelah mereka konser di Java Rockin'land. Tiap kali dengerin lagu baru mereka, pikiranku seakan bilang "apaan sih ini aneh banget", tapi setelah tiga atau empat kali denger jadi bikin nagih. Aku menyebut musik mereka magical-weird-but cool, sesukaku. Saking nggak ngeboseninnya, tiap belajar ujian nasional sampai sekarang skripsian ya ditemani lagu mereka. They influence me a lot.

My favorite Danish men! 
Nick Watts, Mads Wegner, Jonas Bjerre Terkelsbøl, Silas Utke Graae Jørgensen, Johan Wohlert


Tusen takk for being exist and making good musics! Semoga di lain kesempatan bisa bertemu dengan kalian lagi, Mew!

aku di kanan pakai baju putih~
pic source: @mewofficial instagram
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
"Dalam pameran utama Biennale Jogja XIV yang bertajuk STAGE OF HOPELESSNESS, 39 perupa dari Indonesia dan Brasil diundang untuk menggelar karya-karyanya. Sebanyak 27 perupa Indonesia yang diundang adalah perupa-perupa yang aktif berkegiatan dalam enam tahun terakhir dan telah menggelar pameran tunggal dalam dua tahun terakhir."









Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Awalnya aku diajakin Wina dateng ke acara LOL ini di hari ketiga (hari terakhir) untuk nonton konser Adhitia Sofyan gratisan haha. Langsung cus dah, secara dari kapan kita pengen nonton tapi malah nggak kesampaian mulu. I've been his fan for years, dari jaman kambing jantan tapi sampai sekarang belum pernah nonton live performance doi (karbitan banget ya? ya nggak lah, belum ada waktu aja~). Oh ya, acara LOL tahun ini masih diadakan di Amplas, dengan dibagi menjadi tiga titik acara yaitu di taman untuk food bazaar, atrium untuk pameran dan talkshow, dan rooftop untuk music gig nya. Menurut schedule sih open gate gig nya jam 19.00, jadi daripada aku otw mepet jam segitu pasti macet karena malam minggu, mending berangkat awal. Dan pada akhirnya, aku memutuskan untuk ikut talkshow yang sesi siang aja sekalian. 

Aku bener-bener nggak tau tentang jadwal talkshownya hari itu, sampai suatu ketika pada H-1, salah satu following-ku di IG update instastory kalau dia bakal ngisi talkshow yang jam 2! Wah yang bener aja, kok aku baru tau semepet itu?! Aku bertanya dalam diam (halah). Kaget, heboh sendiri. Aku langsung DM Tata yang notabene juga dateng ke talkshownya Wregas dan Gianni hari itu tapi jam 1. Kirim screenshoot instastory tadi, dan bilang "Takk aku pengen ketemu masnya ini :(".

Keesokan harinya aku masih galau jadi nonton talkshow atau nggak, soalnya belum daftar seat dan nggak yakin masih banyak yang available. Tapi sebagai manusia yang berpegang teguh dengan prinsip "sek penting yakin", akhirnya aku mantep. Lepas dhuhur langsung berangkat tanpa mikirin lagi dapet seat atau nggak. Sampai sana jam 13.30, pas banget di detik-detik terakhir talkshownya Wregas selesai. Sambari menunggu jam 2, kita lihat-lihat pameran produk brand lokal yang lucu-lucu banget!

in frame: Anggey, Febrian, Kadek

Yeay, akhirnya ikut talkshow para suhu traveling ini walaupun nggak dapet seat, rela dah berdiri. Talkshow kali ini super menarik dan rame, lho. Mereka sharing tentang tips traveling khususnya buat budget traveler, pengalaman-pengalaman mereka, dan cara editing foto kece :p

Sayangnya kita cuma ikut 3/4 sesi, karena capek juga berdiri dan butuh asupan minuman, jadilah ke food court di taman pendopo yang ternyata rameee banget. Jauh-jauh ke sini ujung-ujungnya beli cokles juga. Waktu bersantai ria di taman, temenku bilang hal yang sungguh bikin galau, "Chak, talkshow-nya udah selesai, tuh. Lo mau foto sama Febrian nggak?". Dhuar. 

Nggak kepikiran lho aku buat sampai foto bareng gitu. Di satu sisi malu karena pasti sesi foto udah selesai, di sisi lain pengen karena kapan lagi ketemu dia? Akhirnya yaudahlah ya kita balik ke atrium, siapa tau masih ada banyak orang yang lagi sesi foto terus bisa nimbrung. Belum sampai sana, ndilalah kita berpapasan sama dia di penyebrangan antara taman pendopo dan atrium. Kita mau ke atrium, dia malah ke taman pendopo. Duh, yakali nyamperin. Kegalauan yang sungguh. Aku tetap ke atrium sambil muter-muter pameran lagi, padahal sih sambil mikir. Temanku mencoba meyakinkanku. Saat itulah aku menyadari bahwa diriku ini sungguh jirih terhadap orang-orang tertentu. Kucoba memantapkan diri sesuai prinsip sik penting yakin menuju kembali ke taman pendopo.

Emang kalo udah jodoh pasti nggak kemana.


muka awkward dan speechless ya gini

Kita berpapasan di pintu masuk taman pendopo, aku kaget dan langsung kisut dong haha. Untungnya temanku langsung nyegat :'D Terima kasih juga buat mba-mba panitia yang udah bantu fotoin.
Awal tau Febrian dari iseng-iseng blogwalking, terus ketemu blognya dan akhirnya ngikutin JIK di youtube Indonesia Kaya, dimana dia sebagai host-nya! Dari situlah aku dapat benyak wawasan tentang budaya-budaya Indonesia. Terima kasih sudah menginspirasi ya! :))
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku pernah sering kali merasakan kegundahan saat awal masuk kuliah. Saat itulah orang-orang terdekatku, saudara, orang tua temen dan bahkan penjual warung depan rumah nanya, "Mba sekarang kuliahnya keterima dimana?". Ya, aku adalah seorang mahasiswa kedokteran gigi di universitas swasta. Lalu mereka melanjutkan bertanya, "Oh, kedokteran. Dulu masuknya berapa?". Mereka nggak peduli mau kedokteran apa, tapi sepertinya mereka beranggapan bahwa semua kedokteran itu jurusan mewah. Apalagi di universitas swasta. Hanya saja, aku sangat menyayangkan orang yang menanyakan seperti itu. Menurutku itu nggak sopan.

Aku masih nggak ngerti apa motivasi mereka nanya kayak gitu. Sebagai bahan basa-basi lagi. Seolah-olah ya nggak apa-apa toh ini candaan. Oke aja kalau orang tersebut nanya biaya masuk buat persiapan anaknya yang pengen masuk jurusan itu juga. Tapi kalau cuma sekadar basa-basi, sungguh nggak sopan. Jawaban apa yang sebenarnya mereka harapkan?

Sejujurnya biaya kuliah di kedokteran gigi relatif mahal, sih. Masuknya juga agak sulit karena banyak saingan. Tapi itu relatif. Sepertinya semua orang juga tau.

But why people keep asking the same question? 

Mereka menanyakan sebuah nominal, tetapi mereka sebenarnya nggak butuh jawaban itu. Kenapa nggak nanya "Wah, kalau kamu besok udah lulus bisa periksa gratis, ya?" sebagai bahan basa-basi. Walaupun agak nyebelin juga sih haha tapi seenggaknya lebih baik lah.

Hal ini mungkin juga terjadi karena stereotipe orang-orang ke jurusan kedokteran gigi yang pasti isinya mahasiswa berada karena biaya kuliahnya saja mahal. Apalagi di universitas swasta. People, if you don't want to know what's inside the book, just simply don't judge a book by its cover. Mereka nggak tau kalau di dalamnya juga ada mahasiswa yang perekonomian orang tuanya biasa-biasa saja. Mahasiswa yang rela menyisihkan uang jajannya untuk beli alat-alat, buku, dan kuota. Mahasiswa yang lebih suka naik motor karena bensinnya lebih irit dibandingkan mobil--yang belum tentu juga punya. Mereka nggak tau gimana orang tuanya mati-matian bekerja dengan penghasilan pas-pasan, yang sebagian besarnya untuk biaya kuliah anaknya.

Ibuku selalu berkata "Nggak apa-apa ngeluarin biaya banyak asalkan itu untuk pendidikan". 

Terus kenapa aku milih masuk di kedokteran gigi di univ swasta lagi? Nah, awalnya aku hanya milih di kedokteran gigi, nggak untuk di univ swastanya. Aku sempat berjuang untuk masuk di univ negeri. Tapi kehendak Allah lebih baik. Pada akhirnya aku memilih di sini, menjadi mahasiswa kedokteran gigi di univ swasta dan itu bukanlah suatu kesalahan. Pun kalau aku masuk di univ negeri, hampir sama kok biaya kuliahnya karena negeri pakai UKT, kan?

Untuk orang-orang di luar sana, yang selalu kepo dengan biaya kuliah, tolonglah berhenti menanyakan hal yang sebenernya nggak bermanfaat juga buat kalian. Bolehlah kalian berbasa-basi nanya harga tas mahal atau mobil yang dipakai untuk mengkonfirmasi status sosial mereka. Karena jurusan kuliah tidak selalu merepresentasi perekonomian mereka yang sebenarnya. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Beberapa waktu lalu, aku mengikuti suatu kegiatan sosial yang berbasis volunteering. Aku daftar di sana awalnya memang untuk mencari pengalaman dan teman, karena selama ini cuma sering ikut kegiatan di kampus. Selama kuliah ini aku merasa jadi nggak punya social life, sehingga itu yang paling memotivasiku join kegiatan di luar. 

Kegiatan kali ini sangat edukatif. Ya karena nggak lain yang mengadakann adalah komunitas yang berfokus pada pendidikan anak. Konsepnya fun learning dan tepat sasaran. Kita bisa mengajar pelajaran dasar, pengetahuan umum, dan lain-lain. Yang paling bikin penasaran adalah siapakah tenaga pengajarnya atau relawannya? Kalau dari yang aku ketahui sih dari berbagai kalangan, namun kebanyakan mahasiswa dari berbagai jurusan.

Saat itu aku ikut kegiatan mengajar di SD yang anak-anaknya rame tapi pinter. Seneng banget sih bisa interaksi dengan mereka yang asik dan pede-pede jawab pertanyaan. Para pengajar saat itu banyak ngajarin mereka tentang pengetahuan umum dan dasar, salah satunya adalah cara menyikat gigi dengan benar. Materi tersebut disampaikan oleh senior yang udah lama mengajar disana. 
Kebetulan pas itu aku nggak berpartisipasi langsung dalam penyampaian materinya, karena aku baru join dan belum begitu paham dengan kinerjanya. Sungkan gaes kalo salah kan. Walaupun materinya memang related dengan ilmu yang sedang aku pelajari, tapi orang-orang belum banyak yang tau. Jadinya aku cuma ngeliatin sambil observasi aja.

Awalnya emang lancar-lancar aja. Senpai itu menjelaskan cara menyikat gigi yang benar dengan sangat interaktif. Media yang digunakan juga nggak tanggung-tanggung, video dengan layar LCD.
Pokoknya yang disampaikan sesuai dengan materi dental health education. Namun, saat masuk ke materi proses pembentukan gigi berlubang, aku merasakan sesuatu yang janggal. Penjelasan senpai pakai bahasa awam emang nggak salah, tapi aku agak aneh dengan pernyataan senpai bahwa gigi bolong yang berwarna hitam karena kuman itu adalah karang gigi.

I was like "what??"

Ada yang bisa bedain karies dengan karang gigi?


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Film ini merupakan salah satu film yang paling ditunggu tahun 2016 nih! Termasuk saya. Sebenarnya pada awalnya nggak ada niat bikin review. Ya memang karena nggak bakat review, apalagi tentang film. Aku termasuk awam tentang ini. Biasanya nonton film atau series buat seneng-seneng aja, kalau suka berarti film itu aku anggap bagus. Nggak ada indikator tertentu. Tapi entah kenapa kali ini ingin berbagi sedikit euforia, anggap saja begitu, lebih cocok dari pada disebut review. Jadi mohon maaf kalau ada beberapa yang tidak berkenan atau tidak sesuai. Mohon jangan dibully, saran dan kritik akan ditampung.

Sebenarnya hanya beberapa film Marvel yang benar-benar aku suka. Alasannya simple, karena selera. Beberapa genre mungkin tidak sesuai, tapi bukan berarti menolak semua, karena pada akhirnya jalan cerita yang paling berpengaruh.

Well, honestly I'm not that geeky.

Tapi Doctor Strange ini benar-benar sukses membuatku penasaran. Alasan pertama, yaitu karena cast nya oke-oke. Kalau kalian suka nonton Hannibal, 12 Years a Slave, Constantine, (these are my favs) pasti nggak akan asing deh sama tokoh yang mendominasi film ini. Selain itu, yang paling bikin penasaran adalah karena karakter si Dr. Strange ini diperankan oleh Benedict Cumberbatch. Dia adalah salah satu aktor favorit, karena nggak diragukan lagi aktingnya selalu bikin terkesima ketika dia dapat membawakan karakter yang berbeda-beda di setiap filmnya dengan sangat sempurna dan keren. Biasanya pada kebanyakan film ia berperan seagai karakter smart, sebut saja Stephen Hawking, Sherlock. Menurutku Cumberbatch cocoklah membawa peran Dr. Stephen Strange yang pintar dan arogan.

Pada awalnya aku tau film ini karena berita bahwa Sherlock season 4 nggak kelar-kelar karena Cumberbatch lagi sibuk dengan Doctor Strange ini. I'm a Sherlock series enthusiast btw. Bayangin aja dari SMA sampai sekarang kuliah semester tua nungguin season 4. Nah itu juga salah satu yang memotivasiku untuk tidak melewatkan Doctor Strange dengan harapan bakal keren banget!
Lalu alasan selanjutnya adalah karena cerita di film ini agak berbeda dengan film-film Marvel yang lain. Doctor Strange menyajikan konsep dan jalan cerita yang lebih magic dan supernatural. Ada beberapa scene yang dapat membawa kita ke dua dunia yang berbeda.

Sebelumnya aku sama sekali nggak tau kalau Doctor Strange ini bakal rilis di Indonesia lebih cepat, yaitu tanggal 26 Oktober 2016, yang awalnya aku kira November. Wah, Indonesia termasuk beruntung ya. Saking antusiasnya, hari pertama tayang itu juga aku nonton. Mumpung pagi nggak ada jadwal, aku berniat nonton di CGV Blitz Jwalk jam 12. Karena itu pertama kali tayang, jadi nggak berani buat nonton di XXI. Bukan karena takut kehabisan tiket, tapi takut nggak kedapetan seat favorit di baris E-F. Maklum nggak punya m-tix. Selain itu juga ingin menjajal Blitz selain di Hartono. Ternyata sampai sana terlalu awal, dan akhirnya beli deh tiket jam 11. Saat itu sangat sepi sekali. Satu studio 2D hanya ada sekitar 14 orang, dimana 10 orangnya menempati baris E termasuk aku, sisanya dua pasangan di sweet box.

Peringatan! Mungkin ada spoiler.

Jadi film Doctor Strange ini menceritakan tentang seorang dokter bedah saraf bernama Stephen Strange yang sangat pintar dan sombong. Ia menganggap dirinya paling ahli di rumah sakit tersebut, dan selalu menolak masukan dengan arogan, Suatu malam, ia mengalami kecelakaan mobil tunggal dan kemudian jatuh ke dalam jurang. Sayangnya kayaknya waktu evakuasinya lama, dan mengenai saraf yang menginervasi tangan sehingga berdampak pada pergerakan jari Dr. Strange yang terbatas, seperti tremor. Sudah tujuh kali ia menjalankan operasi, namun hal itu tidak berhasil mengembalikan fungsi tangannya seperti semula. Yang diinginkannya saat itu adalah kesembuhan sehingga dapat melakukan operasi bedah saraf seperti dulu, karena itulah hidupnya. Ia sempat putus asa dan saat pacarnya, Christine, prihatin dan ingin membantunya, sifat sombongnya mulai keluar. Ia tetap ingin sembuh bagaimanapun caranya. Setelah beberapa kali gagal, ia justru mendapat kabar bahwa ada seseorang pekerja bernama Jonathan Pangborn yang pernah lumpuh total, tetapi ajaibnya bisa jalan lagi. Datanglah ia menemui Pangborn dan disuruh ke suatu tempat bernama Kamar Taj, di Kathmandu, Nepal untuk bertemu sang guru. Hanya berbekal tekad, ia langsung pergi ke sana. 

Nah, ceritanya mulai seru nih ketika Strange bertemu dengan sang guru. Sifat sombongnya masih belum hilang, ia nggak percaya bagaimana bisa suatu sihir menyembuhkannya sedangkan ilmu kedokteran modern saja tidak bisa. Walaupun sang guru sudah bilang bahwa kekuatan itu tidak 'menyembuhkan', tetapi membangkitkan kepercayaan, Strange tetap kekeuh. Akhirnya sang guru menunjukkan suatu dimensi lain kepada Strange yang membuat "dia yang merasa tau segalanya, jadi sadar bahwa ternyata ada hal lain yang ia tidak ketahui sama sekali". Mulai saat itu, Strange yang angkuh berubah. Ada satu dialog yang jadi favorit, ketika Strange meminta diajari oleh sang guru, "How I get from here to there? "How did you become a doctor?" "Study and practice". Tekad Strange untuk menyembuhkan tangannya semakin meningkat. Ia giat membaca buku-buku kuno dan berlatih. Pada awalnya ia memang paling cupu, tapi karena kepintarannya, dengan cepat ia dapat menguasai kemampuan tersebut. Singkat cerita, Strange harus memilih menggunakan kemampuan dan energi yang ia miliki untuk mengembalikan fungsi tangannya atau untuk membela dunia.

Secara keseluruhan film ini menarik dan recommended untuk ditonton, bahkan bagiku yang biasanya tidak begitu tertarik dengan film bergenre fantasy, tetapi thumbs up buat film ini. Yang paling membuatku suka adalah jalan ceritanya yang ternyata memang berbeda, dengan mengangkat kehidupan Dr. Strange dan bagaimana ia bisa berubah dari yang sombong dan mementingkan egonya sendiri, sampai keputusan yang ia ambil untuk mengembalikan sanctum.

Efek visual dari film ini juga benar-benar keren banget! Mata kalian akan dimanjakan dengan bangunan kota yang menggulung-gulung. Jadi, coba deh tonton dengan 3D agar lebih afdol. Nggak lupa juga, film ini disertai dengan lawakan ringan walaupun terkadang terdengar sedikit receh sih. But the actors bring it right, jadi penonton tetap tertawa.

Tetapi disamping itu, yang nggak aku suka dari film ini adalah durasinya. Awalnya heran kenapa berasa cepet banget nonton ini, ternyata setelah dicek, memang durasinya hanya 115 menit, nggak sampai 2 jam. Jadi menurutku ceritanya agak sedikit mengambang. Untuk detail dan latar belakang tokohnya pun tidak terlalu diangkat. Bahkan nasib Dr. Strange setelah ini hanya ditampilkan dalam scene lewat. Benar-benar cepet banget, agak nggantung, jadi serasa belum puas nontonnya.

Oh ya, sedikit bocoran nih, jangan keburu-buru keluar theatre ya kalau sudah muncul credits scene, karena bakal ada Thor dan sedikit tentang villain nya Doctor Strange yang sesungguhnya. Semakin penasaran dengan sekuelnya. Lalu apakah Doctor Strange ini akan muncul di film Thor: Ragnarok kelak?

Sejauh ini Doctor Strange tidak begitu mengecewakan sih, masih sesuai dengan ekspektasi. 8/10 deh untuk film ini 😃
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

KNOW ME

KNOW ME
Indonesian based in Jogja. Been three years studying Dentistry.

Follow Me

  • Instagram
  • Twitter
  • Facebook

Labels

  • Abroad (1)
  • Art (1)
  • Daily (1)
  • Event (1)
  • Jogja (1)
  • Journey (4)
  • Knowledge (2)
  • Korea (2)
  • Music (2)
  • Thoughts (9)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  August (1)
      • Objek Observasi
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2017 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (3)
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (2)
    • ►  August (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2012 (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2011 (4)
    • ►  December (2)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2009 (2)
    • ►  October (2)

Created With By BeautyTemplates & Published With By Blogger Templates